Cerpen : Mimpi si Aden (1)

Lahir dengan nama Raden Banyu Wiranata dibesarkan dalam keluarga menengah di pinggiran ibu kota jauh dari gemerlap dan kepadatan kota besar. Masa kecil Aden dihabiskan untuk belajar dan membantu kedua orang tuanya dirumah selepas pulang sekolah hingga lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Karena keinginan sang Ayah agar buah hatinya kelak menjadi teknokrat dan sukses di kota besar Aden harus meneruskan sekolah keluar dari kota kelahirannya dan meninggalkan teman-teman masa kecilnya.

Setibanya di kota bersama sang ayah, Aden siap untuk melakukan petualangan besar.. tapi…

“yah! Raport smp ketinggalan di kamar..” teriak Aden ketika membuka tas sekolah yang dibawanya saat mendekati meja pendaftaran depan loby sekolah yang megah pilihan ayahnya. Sejurus dengan itu wajah ayah pun berubah drastis dengan mata yg penuh amarah dan kedua tangan ada di pinggang “Kamu ini gimana sih, makanya disiapin dari semalem..!” Aden terdiam takut sambil membayangkan ayahnya berubah menjadi monster berbadan hijau dengan otot menyembul keluar dari bajunya.

Salah satu prasyarat dokumen yang harus dibawa tertinggal dirumah, untuk kembali lagi sangat tidak memungkinkan karena pendaftaran itu hari terahir. Namun sepertina hal tersebut bukan menjadi masalah bagi ayah Aden, di kantor ayah terkenal jago meloby dari klien kantor hingga pejabat korup.

Sepertinya ayah harus menggunakan kelebihannya tersebut kali ini.

Selamat Pagi..” ucap petugas pendaftaran
“Pagi bu, gini..  “ ucap ayah sambil menarik badan Aden yang berdiri dibelakangnya untuk maju. “Rapor smp anak saya tertinggal dirumah, tp persyaratan yg lain kami bawa. Kira-kira bisa menyusul kan” lanjut ayah. “Sebentar pak, sy hubungi ketua panitia dulu” jawab ibu petugas ketus. Selang waktu kemudian, “wah maaf pak sepertinya tidak bisa” ucap ibu petugas setelah konsultasi dengan ketua panitia. “Boleh saya bicara langsung sama ketua panitianya” celetuk ayah, “silahkan pak beliau ada diruangan sebelah kanan setelah tangga” lanjut petugas penerimaan siswa baru. Ayah yang sudah mengerti dengan isyarat-isyarat negosiasi ala indonesia mulai beraksi, sedangkan Aden diminta untuk tetap di loby sekolah.

Tidak terlalu lama kemudian ayah keluar dengan wajah tersenyum kepada Aden dan meminta Aden untuk mengisi formulir pendaftaran. Aden tidak mengerti apa yg telah dilakukan ayahnya kepada ketua panitia tersebut, pikiran bodoh Aden membayangkan pasti ayahnya mengancam dengan menunjukan otot dan berubah menjadi mahluk hijau seperti di serial tv yang sering ia tonton “hahahahaa” tawanya ketika membayangkan itu.

Setelah mengisi formulir dan memberikan semua syarat-syarat dalam satu map warna merah ke petugas ayah berbisik “Besok kita datang lagi kesini jam 7 pagi langsung ke ruang panitia”.

Keesokan harinya Aden pun kembali ke sekolah tersebut bersama ayah kemudian langsung masuk ke ruang kepsek untuk menyerahkan berkas yg belum lengkap.

Sekitar pukul 7.30 ujian masuk calon siswa baru dimulai, semua peserta wajib datang setengah jam sebelumnya. Aden sempat terheran-heran dan pesimis karena hampir semua orang yg ikut tes tersebut membaca buku sedangkan Aden bahkan hanya membawa buku coret2an semasa smp dulu yg tertinggal di tas lama nya dan secarik kertas di sakunya yg sdh di salin beberapa rumus matematika.

“KRIIIIIIIINNNNG……” Bel berbunyi saatnya ujian tiba!! 3 mata pelajaran masing-masing 120 soal selama 3 jam. Artinya 1 mata pelajaran 120 soal ujian hanya memiliki waktu 60 menit.

Berdasarkan nomor urut ujian Aden beruntung sekai karena dapat di bangku pali g belakang. Posisi menentukan prestasi, kira-kira begitu kalimat yg pas menentukan nasib Aden kala itu.

Dengan penuh ke pasrahan Aden menyelesaikan semua soal ujian tersebut dan menghampiri sang ayah yang menunggu diluar sekolah. Harap-harap cemas Aden pulang kerumah sambil menantikan hasil penguman kelulusan yang baru akan release satu hari setelah ujian dilakukan.

(bersambung, ngantuk)

3 thoughts on “Cerpen : Mimpi si Aden (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s